Topik: AI
7 tulisan.
Haruskah Tim yang Separuhnya Agen Pindah dari Git ke Jujutsu?
Catatan hari kedua memakai Jujutsu (jj) di repo trunk-based dengan beberapa agen AI yang ikut menulis. Satu sore berantakan jadi delapan MR, dan op log jadi kotak hitam pesawat.
Realita Adalah Verifikator Terakhir
Server kami tumbang padahal health check hijau sampai menit-menit terakhir. Catatan soal jarak antara lolos tes dan benar di dunia nyata, dari tulisan seorang product designer sampai paper Berkeley.
Ritual, Bukan Alat
OKR kami mati di dua alat berturut-turut. Catatan soal kenapa alat hanya hidup kalau ada ritual yang menempel, dan ritual mana yang paling cepat hilang ketika agen AI mengerjakan sebagian besar tiket.
Taste Dulu, AI Belakangan
Brand identity yang kerasa hidup itu jarang lahir dari prompt yang ribet. Yang ngebedain bukan tool-nya, tapi siapa yang lagi nyetir.
Brand Guidelines Itu Prompt, Bukan Dokumen Corporate
Pergeseran kecil tapi konsekuensinya gede. Brand guidelines yang dibikin pakai format prompt rasanya lebih hidup dan lebih kepake di era AI tools, dibanding PDF tebal yang dibuka sekali lalu masuk lemari.
Surat untuk Adik-Adikku di Madrasah
Catatan dari kakak yang dulu juga sekolah madrasah, sekarang ngoding sambil ngafal. Tentang mimpi yang lebih luas dari mimbar, AI sebagai alat, dan kenapa kita gak boleh saling tarik ke bawah.
Solution-First Valid Kalau Teknologi Berubah Lebih Cepat dari Problem Space
Start from the problem itu advice valid di era tech statis. Tapi kalau tech berubah lebih cepat dari problem space, solution-first jadi equally valid.